TRENDING NOW

Kenali Penyakit “Banjir Air Mata”

Kredit gambar: vote29.com

Article in Indonesian

Masyarakat mungkin belum banyak yang sadar akan suatu penyakit mata yang melibatkan pengeluaran air mata secara berlebihan. Kejadian “banjir air mata” tersebut disebabkan karena dakriosistitis.

Dakriosistitis adalah istilah medis untuk infeksi kantung air mata. Kejadian tersebut lebih sering dialami oleh wanita daripada pria, dan lebih sering terjadi saat usia sudah di atas 40 tahun. Adapun pada wanita karir dan bayi, dakriosistitis dapat pula terjadi, meski jarang dijumpai. Pada bayi baru lahir, kasusnya kurang dari 1%.

Menariknya, dakriosistitis lebih sering dijumpai pada orang berkepala pendek (brachycephaly) daripada yang berkepala panjang (dolichocephaly) atau normal (mesocephaly). Hal ini dikarenakan kepala pendek memiliki saluran air mata yang lebih panjang dan rongga air mata yang lebih sempit.

Penyebab dakriosistitis

Dakriosistitis disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah infeksi bakteri. Pada anak-anak, dakriosistitis akut paling sering disebabkan oleh bakteri Haemophylus influenzae.

Penyebab lainnya termasuk penyakit kelainan hidung seperti sinusitis, rinitis, tumor hidung, hidung bengkok, dan sebagainya.

Selain itu, faktor lifestyle juga dapat berpotensi menjadi pemicu terjadinya draikosistitis termasuk diantaranya bekerja berlebihan di tempat tertutup, kurang tidur, terus-menerus menangis, cedera, dan luka.

Gejala Penyakit Banjir Air Mata

Salah satu peristiwa yang khas dialami oleh penderita dakriosistitis adalah terjadinya epifora, yaitu banjir air mata yang disebabkan oleh pengeluaran air mata berlebihan atau tersumbatnya saluran air mata.

Menurut statistik, tersumbatnya saluran air mata dialami enam persen pada bayi yang baru saja lahir. Akan tetapi, kelainan bawaan ini dapat sembuh secara spontan karena diantara bayi yang mengalami epifora, sekitar 75% tidak lagi mengalaminya pada usia tiga bulan dan 95% di usia satu tahun.

Gejala lainnya dari banjir air mata termasuk merasa mata seperti berpasir (grittiness), adanya lapisan/selaput tipis di mata, kegatalan pada sudut mata, nyeri, kemerahan, pembengkakan  di kantung air mata, dan dacryolith (kotoran mata).

Nyeri dapat pula dirasakan terutama pada kantung air mata. Hal ini dapat menyebar ke dahi, bagian dalam bola mata, dan bagian depan gigi.

Beberapa penderita juga dapat merasakan demam dan lelah-lesu (prostration). Bila menahun, maka penderita mengeluh mudah menangis, atau mudah berlinang air mata terutama ketika angin menerpa.

Bagi bayi-anak dengan dakriosistitis kongenital (bawaan genetika), banyak orang tua melaporkan satu sisi mata yang memerah dan disertai bengkak pada pangkal hidung yang terkadang mengeluarkan nanah.

Jika menyebar, dakriosistitis dapat menyebabkan terjadinya radang jaringan kulit kelopak mata yang sering dijumpai pada anak. Namun tak perlu khawatir, sebab epifora dan dakriosistitis jarang dilaporkan berlanjut menjadi kanker rongga hidung (sinonasal carcinoma).

Pemeriksaan klinis

Untuk menegakkan diagnosis, dokter biasanya melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti dye dissapearence test, fluorescein clearance test, dan John’s dye test. Ketiganya menggunakan zat warna fluorescein 2%. Lalu untuk memeriksa letak kelainan, dokter akan melakukan tes probing dan tes anel.

Selain itu, pemeriksaan laboratorium hitung darah juga lengkap dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya peningkatan sel darah putih (leukositosis). Tes ini dilakukan untuk menyingkirkan dugaan adanya leukemia (kanker darah-sumsum tulang) sebagai penyebab infeksi kantung air mata.

Lalu untuk menentukan terapi antibiotik yang tepat, pemeriksaan kultur perlu dilakukan. Karena bila tidak tepat, pasien dapat mengalami resistensi atau kebal obat. Sedangkan apabila fasiltasnya tersedia, CT scan, dacryocystography, dan dacryoscintigraphy dilakukan sesuai indikasi.

Solusi dakriosistitis

Dilatasi (pelebaran) dan irigasi (pembilasan) merupakan strategi yang paling umum, mudah, dan cepat untuk mengatasi sumbatan saluran air mata. Hal ini memang bukan solusi yang permanen, sehingga perlu dilakukan beberapa kali setiap tahun.

Jika ditemukan terjadinya gangguan permukaan mata sebagai penyebab epifora kronis, maka dapat dilakukan pengisian ulang volume air mata sebagai dasar dan peningkatan kualitas selaput air mata (tear film). Gunakanlah preparat air mata buatan, terapi oklusi lakrimal/pungtal, efek moist chamber, atau kombinasinya.

Terapi dakriosistitis berbeda pada anak dan dewasa. Pada anak, dilakukan pemijatan kantung air mata ke pangkal hidung. Bila perlu dapat diberikan antibiotik dan tetes mata.

Pada orang dewasa, daerah yang terkena dapat dikompres hangat sesering mungkin dan disertai konsumsi antibiotik. Nyeri-radang diatasi dengan obat analgesik seperti asetaminofen atau ibuprofen. Bila dirawat di rumah sakit, dokter mata biasanya akan memberikan antibiotik iv (cefazoline tiap 8 jam). Pernanahan (abses) diatasi dengan insisi dan drainage.

Operasi (dacryocystorhinostomy) dilakukan pada dakriosistitis yang bandel dan kronis untuk menghubungkan kantung air mata dengan selaput lendir hidung. Tujuannya untuk dapat memperbaiki pengaliran air mata. Lalu dapat juga dilakukan dacryocystography sebelum operasi. Berkonsultasilah ke dokter untuk memperoleh solusi yang tepat.

Dakriosistitis mudah dicegah dengan menjaga kebersihan kelopak mata, berhati-hati saat menggosok kelopak mata dan menjaga kebersihan rongga hidung dengan semprotan larutan yang mengandung garam.

About
dr. Dito Anurogo adalah perintis dokter digital (online doctor), konsultan kesehatan detik.com dan netsains.net, penulis 13 buku, kini mengabdi di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University, Indonesia. Email: dito.anurogo@surya.ac.id