TRENDING NOW

Renungan ‘Habibie & Ainun': Aduhai, Indonesia Tanah Airku

Setelah menonton film ‘Habibie & Ainun’, saya menangis. Film yang menceritakan perjalan karir dan kisah cinta seorang mantan Presiden B.J. Habibie tersebut membuat saya merenung. Kenapa?
 
Pertama, film Habibie & Ainun membuka mata orang awam (seperti saya), dimana mayoritas orang-orang sering berpikir: “Khan enak jadi Presiden, duitnya banyak, kerjaannya cuma korupsi, jabat tangan dan jalan-jalan”. 
 
Namun setelah menonton kisah B.J. Habibie, saya jadi berpikir sebaliknya: “Memangnya gampang jadi Presiden? Mungkin gajinya sendiri tidak bisa mengembalikan waktu yang harus dihabiskan untuk memikirkan sebuah negara denga berjuta-juta penduduk yang tinggal di dalamnya.”
Film ini juga mengingatkan saya dengan lagu masa kecil yang dipopulerkan oleh Joshua:

 
Cita-citaku.. uwuwuwu.. Ingin jadi profesor
Bikin pesawat terbang kubuat sendiri.
Kalau bisa terbang, kubawa mama ke pasar
Kalau bisa terbang, kubawa papa ke kantor
Terus terang jaman dulu, saya hanya tahu cara menyanyikan lagunya, tahu orang yang disinggung itu B.J. Habibie, tahu beliau seorang insinyur, profesor atau semacamnya. Tetapi tidak tahu kerjaan profesor itu detilnya bagaimana dan apa artinya membuat pesawat itu. 
 
Dari film Habibie & Ainun, saya melihat bahwa ternyata membuat pesawat itu benar-benar merakit pesawat dari nol. Dan sebagai kaum Indonesia, saya bangga sekali sewaktu saya mengetahui bahwa bangsa saya sendiri bisa merakit dan mendesain pesawat terbang dari nol. Saya selalu berasumsi kalau semua maskapai penerbangan hanya membeli pesawat dari Airbus atau Boeing. Siapa sangka kalau Indonesia ternyata bisa merancang pesawat?!Lalu film tersebut juga mengingatkan saya akan sisi pesimisme bangsa kita. Meskipun ternyata Indonesia bisa membuat pesawat sendiri, masih banyak yang berpikir negatif akan hal tersebut.
 
Jujur, seperti salah seorang wartawan dalam film tersebut, saya juga sempat berpikir: “Pesawat Hercules dari Amerika lewat Iran ditembak det det det det det… lewaatt.. Namun kalau pesawat buatan Indonesia lewat dan ditembak…. ngapain ditembak, nanti juga jatuh sendiri?”
Haha.. Itu adalah hal yang sama yang akan saya katakan ketika mendengar bahwa Indonesia akan melakukan hal fenomenal, begitu juga dengan mayoritas warga negara Indonesia yang saya kenal. Contohnya perihal pembangunan jaringan MRT (Mass Rapit Transit) di Jakarta, banyak yang berkomentar:
A: “Katanya Jakarta bakal bikin MRT
B: “Hahaha.. mana mungkin bisa?”
Ketika menonton film Habibie & Ainun saya pun merasa, “wah, pendapat wartawan ini realistis sekali”. Akan tetapi di waktu yang sama, saya juga memikirkan bagaimana perasaan B.J. Habibie, dimana kalau saya adalah beliau, saya akan berpikir: “Saya ini lulusan S3 dari Jerman, sudah kerja di Jerman bertahun-tahun sebagai insinyur. Kalau saya bisa membuat pesawat di Jerman dan bisa terbang, berpindah lokasi ke Indonesia tidak akan membuat saya menjadi gagal membuat pesawat terbang.”

Hal ini membuat saya jadi berpikir lagi, apalagi ketika Habibie (di film) berkata, “bangsa Indonesia itu bisa berkembang, sayangnya penduduknya sendiri tidak percaya kalau mereka itu bisa berhasil.” Apakah hal tersebut yang menjadi penghalang untuk bangsa Indonesia menjadi maju? 

 
Lewat film ini, saya merasa bahwa rasa percaya diri itu sangatlah penting dan memberikan pengaruh yang besar dalam membuahkan hasil. Saya melihat banyak orang yang memiliki potensial, tetapi tidak punya rasa percaya diri, akhirnya tidak mendapatkan hal yang diimpikan atau bahkan akhirnya tidak mencoba sama sekali. Apakah hal yang sama sedang terjadi dengan bangsa Indonesia? 
 
Selain tidak mempunyai rasa percaya diri, saya miris melihat cara kerja dan pola pikir banyak masyarakat Indonesia yang lebih malas dan cenderung santai daripada bekerja secara efisien. Ini membuat saya berpikir ulang di mana masalah sebenarnya dan bagaimana penyelesaiannya? 

 
Kalau ditanya seperti itu, saya akan bilang bahwa potensi yang ada dan sumber daya alam yang dibanggakan akan selalu jadi milik Indonesia. Namun, kepercayaan akan kemampuan diri dan negara sendiri juga harus dikembangkan, jangan hanya sekedar dijadikan lagu atau diomongkan. Efesiensi dalam bekerja pun harus ditingkatkan!Untung saya bukan Presiden dan tidak harus menghabiskan 23 jam per hari memutar otak saya untuk negara.  
Indonesia tanah airku, I still love you tapi sejujurnya… kamu sangat berpotensi dan masih harus banyak belajar dan berkembang!

Related Articles