Indonesia merdeka, tapi apakah sudah bebas?

17 Agustus bukanlah hari yang asing bagi orang Indonesia. Hari di mana segenap elemen bangsa Indonesia merayakan peristiwa kemerdekaan. Kemerdekaan dari belenggu penjajahan yang telah begitu  lama mendera nasib bangsa ini. Tetapi tahun ini sungguhlah istimewa. Perayaan hari besar ini dibarengi dengan perayaan hari besar lainnya yaitu Idul Fitri. Bagi saya, ini adalah sebuah momen yang luar biasa karena kedua perayaan tersebut membawa pesan yang sama: kemerdekaan.

17 Agustus adalah sebuah simbol kemerdekaan dan perjuangan bagi bangsa Indonesia yang telah sekian lama menderita karena penjajahan. Di mana kita mengingat jasa pahlawan dan betapa bersyukurnya kita akan anugerah kemerdekaan itu sehingga kita mampu menentukan nasib kita sendiri. Di sisi lain, Idul Fitri juga membawa pesan yang sama. Di mana setelah sebulan berpuasa, kita mencoba untuk berjuang memerdekakan diri sendiri dari belenggu hawa nafsu untuk menjadi manusia yang bebas. 

Namun dua hari kemerdekaan tersebut, walaupun membawa sebuah ide kebebasan yang sama, mempersoalkan dua tipe kebebasan yang berbeda. 17 Agustus adalah kebebasan dalam tatanan masyarakat, sedangkan Idul Fitri berbicara mengenai kebebasan  dalam tatanan pribadi seseorang.

Dan pertanyaannya adalah, apakah saya sudah bebas, apakah saya sebagai orang Indonesia sudah menjadi pribadi yang merdeka?

Sering kita mendengar berita-berita yang seakan-akan menutup sebelah mata akan kebebasan orang Indonesia. Penyegelan tempat ibadah secara sepihak, kekerasan terhadap petani yang dilakukan oleh aparat hukum, dan masih banyak lagi. Sangat menyedihkan bahwa negara yang sudah berjuang dengan sangat keras untuk memperoleh kemerdekaan, malah menutup kebebasan warganya sendiri.

Sungguh hal yang amat menyayangkan. Bagaimana kita bisa mencapai masyarakat yang merdeka, bila di tingkat individu kemerdekaan tersebut telah dirampas?

Tidak hanya sampai di situ, karena pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita sebagai pribadi sudah yakin untuk menjadi individu yang bebas? Karena kebebasan tidak serta merta melabrak semua batasan yang ada. Kebebasan juga muncul dengan tanggung jawab. Dan hal ini kadang masih belum dipahami secara benar pula oleh masyarakat kita.

Ketika berbicara di level masyarakat, kita bisa dengan mudah menyalahkan pemerintah yang tidak mampu untuk melindungi kemerdekaan rakyatnya. Tetapi di level pribadi, apakah kita sanggup untuk bebas dan mengemban tanggung jawab kebebasan tersebut. Kebebasan tersebut seperti bebas beragama dan bertanggung jawab dengan menghormati pemeluk agama lain. Bebas untuk memberikan kritik dan siap untuk menanggung kritik orang lain. Bebas untuk bersaing dalam ekonomi dan siap untuk menghadapi persaingan ini.

Sayangnya kita masih menerapkan standar ganda untuk ini. Kita cenderung menuntut hak kebebasan tanpa memperhatikan bahwa orang lain juga memiliki kebebasan yang sama.

Walau begitu, saya tidak pesimis. Saya masih optimis bahwa bangsa ini masih memiliki harapan untuk mencapai kebebasan individu yang sesungguhnya. Memang masih sering terdengar berita miring betapa tidak tolerannya Indonesia terhadap perbedaan, kita selalu mendengar orang=orang yang berjuang membela sikap intoleran tersebut. Perlahan tapi pasti, kita sebagai bangsa semakin memaknai kemerdekaan secara nyata.

Akhir kata, perjalanan kita menjadi bangsa yang merdeka seutuhnya memang masih sangat panjang, tetapi saya yakin bahwa kita sudah berada di jalur yang benar. Dirgahayu ke-67 Indonesia, dan tentunya juga selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

Merdeka!

Global Indonesian Voices

Global Indonesian Voices (GIV) is Indonesia’s first independent online media, established for ‘Connecting Indonesia to the World‘ by publishing independent news and stories written by and for Indonesians and Indonesia-philes all around the world.

Related posts

Top
Read more:
SBY
Susilo Bambang Yudhoyono: Diaspora Are Our Assets – Day 2 CID Summary

Another successful day at Congress of Indonesian Diaspora (CID) at...

(Photo source: Soraya Intercine Films)
A Great Year for Local Cinema

December is Indonesian cinema’s “Hollywood summer,” or the season when...

Close